Dalam
komunikasi massa, proses itu tentu disesuaikan dengan medianya. Definisi yang
kita kutipkan di sini menunjukkan, komunikasi massa selalu berhubungan dengan
transmisi dan penyebaran pesan. DeFleur/Dennis, misalnya, mengatakan
“komunikasi massa adalah proses di mana komunikator professional menggunakan
media untuk pesan secara luas, cepat dan kontinyu untuk menimbulkan makna yang
diharapkan pada audience yang besar dan beragam dalam upaya mempengaruhinya
dalam beragam cara.” Hal serupa juga dikatakan Janowitz (1968) : “komunikasi
massa terdiri dari lembaga-lembaga dan teknik-teknik dengan mana
kelompok-kelompok khusus menggunakan peralatan-peralatan teknologi (pers,
radio, film dsb) untuk menyebarkan isi simbolik kepada audience yang banyak
jumlahnya, heterogen dan terpisah-pisah.” Dari sini kita bisa melihat
komponen-komponen dalam komunikasi massa, yang mencirikan sifat khusus institusi
media : 1. “Si pengirim” dalam komunikasi massa selalu merupakan bagian dari
sebuah kelompok yang terorganisir, dan seringkali merupakan anggota dari sebuah
lembaga yang punya fungsi lain selain komunikasi. 2. “Si penerima” selalu
seseorang tetapi juga dapat dilihat oleh si pengirim sebagai suatu kelompok
atau kumpulan dengan beberapa atribut umum tertentu. 3. Salurannya, tidak lagi
terdiri dari hubungan antar manusia, alat-alat ekspresi atau pancaindera,
tetapi mencakup alat-alat dengan sistem penyebaran yang berdasarkan teknologi.
Sistem-sistem ini tetap memiliki komponen-komponen social, karena terikat pada
hokum, adapt istiadat dan harapan-harapan masyarakat. 4. Pesan-pesan dalam
komunikasi massa bukan merupakan sesuatu yang unik, dapat diulang-ulang dan
seringkali sangat kompleks sifatnya. Proses komunikasi dalam komunikasi massa
berlangsung dengan menggunakan media massa. Media massa dengan demikian, maka
proses ini akan lebih kompleks bila dibandingkan dengan, misalnya, komunikasi
antar persona. Sementara DeFleur/Dennis, menunjuk adanya lima tahap proses
komunikasi massa (DeFleur, 1988 : 6) : • Sebuah pesan diformulasikan oleh para
komunikator professional • Pesan dikirim secara cepat dan kontinyu dengan
meneruskannya melalui media. • Pesan menjangkau audiens yang luas dan beragam,
yang menyertai media dengan cara yang selektif. • Individu anggota audiens
menginterpretasikan pesan dengan cara sesuai dengan makna berdasarkan
pengalamannya yang diharapkan kurang lebih sama dengan yang dimaksud komunikator
professional. • Sebagai hasil pengalaman makna ini anggota audiens dipengaruhi
dalam suatu cara bahwa komunikasi memiliki pengaruh. Berikut adalah
komponen-komponen proses komunikasi ini : 1. Komunikator profesional Diantara
beberapa komponen dalam proses komunikasi massa. “komunikator profesional”
memegang peranan penting dalam proses komunikasi massa. Komunikator
professional adalah sebuah tim, yang terdiri dari orang-orang yang berperan
memproduksi proses komunikasi massa. Dengan demikian, komunikator professional
adalah “orang-orang media” itu sendiri atau dari institusi lain yang membentuk
pesan dalam suatu format yang dapat ditransmisikan melalui media massa. Mereka
adalah para spesialis yang memiliki keahlian khusus di bidangnya, seperti pada produser,
editor, reporter, wartawan, redaktur, dan bagian teknis, yang mengorganisasi,
mengedit, dan menyebarkan informasi, hiburan, drama, dan bentuk isi media yang
lain. Umumnya mereka ada di rumah produksi (production house), perusahaan atau
biro iklan. 2. Penjaga Gawang (Gatekeeper) Komunikator profesional memiliki
fungsi yang dikonsepsikan sebagai “penjaga gawang” (gatekeeper). Penjaga gawang
adalah orang yang---dengan memilih, mengubah, dan menolak pesan---dapat
mempengaruhi aliran informasi kepada seseorang atau sekelompok penerima.
Keputusan penjaga gawang mengenai informasi mana yang diterima dan ditolak
dipengaruhi oleh banyak variable. 3. Cepat dan Kontinyu Tahap ketiga dari
proses komunikasi masa adalah menggerakkan pesan untuk mengatasi hambatan ruang
dan waktu. Dikatakan, media massa dapat mengatasi ruang dan waktu. Ini berarti,
pengiriman pesan-pesan media massa, lebih dari media anatra personal, dilakukan
secara cepat dan menyebar dalam jangkauan yang luas. Pada media cetak,
penyebaran pesan tidak begitu cepat, setidak-tidaknya tidak secepat media
elektronika. Pada media elektronika kecepatan dan mengatasi hambatan geografis
menjadi nomor satu. Dengan teknologi komunikasi, dunia menjadi apa yang oleh
Marshall Mcluhan sebagai ‘global village’. Penyebab utamanya adalah satelit
komuknikasi. Satelit komunikasi menerima, memperkuat, dan mentransmisi sinyal
suara, musik, TV, telepon, telegraf dan data dari titik ke titik lain di bumi.
Wilayah liputannnya mencapai hingga 2/5 permukaan bumi, dan dapat menhubungkan
informasi dari stasiun bumi ke satu atau banyak stasiun bumi yang lain.
Dikatakan kontinyu karena media massa bekerja secara ajeg. Ada periodesasi dan
terus menerus. Surat kabar harian terbit setiap hari, majalah terbit setiap
bulan, misalnya. Radio dan televisi menyiarkan program setiap hari, dalam
rata-rata 20-an jam. 4.Keragaman Audiens Pesan menjangkau audiens yang luas dan
beragam, yang menyertai media dengan cara yang selektif. Karena sifatnya yang
umum, audiens media bisa sangat beragam, tidak memandang status sosial, tingkat
pendidikan, agama, suku, ras, dan segala macam pengelompokan social. Hal ini
terlihat dari, misalnya bahsa yang digunakan. Sebisa-bisanya bahasa media harus
dapat dipahami oleh semua anggota audiens pada semua tingkat intelektualitas.
Pengguaan istilah-istilah teknis ilmiah misalnya, mencoba dihindari. Meskipun
demikian pada kenyataannnya media mengenal sekmentasi. Sebagai contoh, semua
orang tahu bahwa Koran Kompas mengambil sekmen kelas menengah ke atas, baik
secara intelektual maupun ekonomis. Sementara Pos Kota mengambil sekmen
masyarakat bawah. Disamping itu ada sekmentasi yang didasarkan atas jenis
kelamin, usia dan hoby. Ada media yang ditujukan khusus kepada perempuan
(majalan Femina, Tabloid Nova), dan ada yang khusus untuk laki-laki (Majalah
Matra). Individu anggota audiens menginterpretasikan pesan dengan cara sesuai
dengan makna berdasarkan pengalamnnnya yang diharapkan kurang lebih sama dengan
yang diakui komunikator professional. Makna ada pada audiens bukan pada
komunikator. Oleh karena itu pesan –pesan media selalu diinterpretasikan oleh
audiens berdasartkan simpanan prengetahuan yang ada pada mremori masing-masing
individu. Jarang terjadi makna yang dimaksudkan oleh komunikator sama persis
dengan makna hasil interpretasi audiens. Untuk mendekati ’persamaan’ itu,
komunikasi harus berlangsung timbal balik, terjadi dialog. Di sisi lain, makna
juga dibentuk secara social, secara intersubjektif. Ada semacam kontrak sosial
dalam suatu komunitas, dalam sebuah domain kebudayaan, atau dalam sistem
sosial. Karena itu, makna dalam satu budaya tertentu bisa berbeda dengan makna
dari komunitas budaya yang lain. 5. Pengaruh Sebagai hasil pengalaman makna ini
anggota audiens dipengaruhi dalam suatu cara, bahwa komunikasi memiliki
pengaruh. Pengaruh komunikasi biasanya dikonsepsikan sebagai dampak. Baik dalam
komunikasi interpersonal, komunikasi organisasional, komunikasi publik maupun
komunikasi massa.
Referensikan alamat dimana anda KOPAS
artikel ini !!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar